Sabtu, 28 Februari 2015
UJIAN KEJUJURAN
Seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah saw menyatakan keinginannya untuk masuk Islam. Tetapi ia juga mengatakan bahwa ia adalah pecandu kemaksiatan, suka berzina, main judi dan mabuk-mabukan. Dan ia menyatakan bahwa ia belum bisa meninggalkan itu semua. Nabi tidak memaksanya untuk segera meninggalkan hal tersebut, Nabi “hanya” memintanya untuk meninggalkan satu hal, yaitu berbohong. Pesan Rasulullah ini bukan berarti bahwa dosa zina, mabuk-mabukan dan judi lebih kecil dari pada dosa berdusta. Akan tetapi, sesuai dengan hadits di atas, kebohongan akan membawa seseorang kepada karakter yang tidak baik, sebaliknya kejujuran akan membentuk seseorang untuk memiliki karakter dan kepribadian yang baik.
Hadits dan kisah di atas merupakan pelajaran, bahwa kejujuran merupakan sesuatu yang sangat penting. Kalau saat ini pemerintah dan dunia pendidikan tengah menggalakkan pendidikan berkarakter, karena diyakini bahwa karakter yang baik merupakan salah satu solusi dari persoalan yang sedang dihadapi bangsa, maka kejujuran merupakan sesuatu yang harus ditanamkan kepada peserta didik sejak dini.
Hari ini, dan beberapa hari berikutnya para peserta didik se-Indonesia tengah menghadapi ujian. Ujian ini sesungguhnya tidak hanya untuk menguji kapasitas intelektual mereka, akan tetapi yang jauh lebih penting adalah menguji kejujuran mereka. Pemerintah, Dinas terkait, pihak sekolah dan semua pihak yang terlibat harus bergandeng tangan, menyatukan visi dan pandangan bahwa penanaman karakter kejujuran merupakan sesuatu yang sangat penting bagi peserta didik. Segala bentuk kecurangan harus dihidarkan dalam proses ujian ini. Kita tidak bisa berharap banyak kepada anak-anak kita, kalau dari dini kita gagal menanamkan kejujuran dalam diri mereka.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar